Tahap Pelayanan Rehabilitasi Sosial Pengguna Narkoba - Dzikri Khasnudin
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tahap Pelayanan Rehabilitasi Sosial Pengguna Narkoba

Masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NARKOBA) dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan peningkatan yang sangat pesat, baik kualitas maupun kuantitas. Masalah tersebut menimbulkan banyak korban, terutama kalangan muda yang termasuk klasifikasi usia produktif.

Masalah ini juga bukan hanya berdampak negatif terhadap diri korban/pengguna, tetapi lebih luas lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga dalam masyarakat, perekonomian, kesehatan (HIV dan Hepatitis), mengancam dan membahayakan keamanan, ketertiban, bahkan lebih jauh lagi mengakibatkan terjadinya biaya sosial yang tinggi (social high cost) dan generasi yang hilang (lost generation).

Upaya penanggulangan masalah di atas dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu demand reduction dan harm reduction. 

Demand reduction adalah upaya untuk mengurangi peningkatan narkoba berupa kegiatan yang mengarah pada pemulihan penyalahgunaan mulai dari proses detoksifikasi, rehabilitasi medik dan rehabilitasi sosial. 

Harm reduction adalah program pengurangan dampak buruk dalam bentuk kegiatan penjangkauan dan pendampingan (outreach program), program pendidikan sampai pada program pembagian jarum suntik garis unuk mengurangi angka HIV/AIDS dan penyakit-penyakit lainnya. 

Saat ini, Indonesia masih memprioritaskan program demand reduction masih terbatas pada program outreach dan pendidikan. Masalah pemulihan dalam penyalahgunaan narkoba bukan persoalan yang mudah, dibutuhkan waktu yang panjang, usaha yang serius dan disiplin ilmu yang tinggi bagi penyalahgunaan untuk dapat bertahan bebas zat (abstinensia).

tahap pelayanan rehabilitasi sosial pengguna narkoba

Maka dari itu, proses pemulihan tersebut memerlukan beberapa tahap pelayanan untuk dapat pulih sepenuhnya dari kekambuhan terhadap narkoba. Beberapa tahap pelayanan tersebut selengkapnya dijelaskan berikut ini.

A. Intake Process

Proses intake merupakan tahap pertama yang ditujukan untuk mengenal calon residen dan memberikan informasi tentang program kepada residen, keluarganya, atau significant others lainnya. 

Residen adalah sebutan untuk klien yang sedang mengikuti program rehabilitasi sosial metode Therapeutic Community (TC)

Upaya untuk memperoleh data dari calon residen dilakukan melalui wawancara oleh petugas dan staf. Data yang dikumpulkan di antaranya meliputi latar belakang kesehatan keluarga, lingkungan, pendidikan, penyalahgunaan, riwayat pengunaan, dan lain sebagainya. 

Tahap ini juga sekaligus untuk menetapkan apakah calon residen layak memperoleh pelayanan Therapeutic Community (TC) atau perlu observasi lanjutan.

Setelah semua data diidentifikasi, pekerja sosial dan staf menentukan diterima atau tidaknya pecandu tersebut dalam program yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan proses intake, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Jika calon residen memenuhi syarat untuk menerima pelayanan maka klien memasuki proses pelayanan selanjutnya, yaitu induction
  2. Jika calon residen tidak memenuhi menerima pelayanan syarat untuk maka pekerjaan sosial memberikan anjuran serta rujukan ke panitia untuk di observasi lanjutan.
  3. Pekerja sosial diharapkan dapat membuat klien merasa nyaman dan diterima dengan baik dalam lingkungan panti vang bersangkutan
  4. Dalam proses intake ini, peran keluarga dan orang-orang vang dekat dengan calon residen sebagai sumber informasi yang dipercaya. Selain itu, keluarga dan orang-orang yang dekat dengan calon residen sangat menentukan dalam memberikan dukungan berkaitan dengan jalannya pemulihan pecandu.

B. Induction/Orientasi

Induction/orientasi merupakan tahap dimana residen masuk kedalam lingkungan program setelah ia menjalani tahap intake. Residen diperkenalkan kepada lingkungan baru (rehabilitasi),yang meliputi tujuan, filosofi, norma, nilai, kegiatan, dan kebiasaan panti, yang dirancang secara umum dan khusus untuk memulihkan residen ke masyarakat umum (keluarga sebagai basis utama) dengan fungsi dan peran sesuai kemampuan dan keterbatasannya.

Dalam tahap ini, pekerja sosial dan staf membimbing residen untuk menjalani masa transisi ke dalam lingkungan rehab untuk menjalani proses pelayanan serta mengkondisikan residen untuk memasuki tahap primary.

Dalam tahap induction ini residen akan mendapatkan tantangan yang berat karena ia harus melepaskan ketergantungannya terhadap narkoba dan subsitusinya, pekerja sosial dan staf diharapkan dapat secara obyektif menilai dan menindaklanjuti sikap serta prilaku negatif residen tersebut. 

Tahap induction akan berlangsung antara 7 sampai 28 hari. Sejalan dengan itu sifat-sifat serta perilaku negatif pecandu masih banyak ditunjukkan seperti banyaknya penyangkalan, memanipulasi, berbohong, mencari alasan, bersikap tidak menerima, dan lain lain. Untuk menangani masalah tersebut akan melalui induction group.

Selama residen menjalani tahap induction.pihak keluarga diberikan pemahaman mengenai program rehabilitasi secara keseluruhan, terutama program tahap primary. Hal lain yang perlu disampaikan kepada pihak keluarga adalah pemahaman mengenai pecandu, kecanduan dan proses penanganannya, terutama pentingnya peran lingkungan serta peran keluarga/significant other dalam pemulihan pecandu. 

Aktifitas tersebut dilaksanakan melalui family support group dengan membentuk kelompok-kelompok orang tua pengguna. Tujuan dari kelompok ini,selain untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang berbagai aspek penyalahgunaan narkoba membentuk jaringan hubungan antar sesama orangtua agar saling mendukung dalam masalah yang di alami anggota keluarganya. Beberapa komponen penting dalam tahap induction

Seorang residen dianggap siap untuk memasuki fase primary apabila telah memenuhi beberapa kritera, di antaranya:

  1. Apabila tahap induction sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan.
  2. Residen memahami dan mampu menjelaskan berbagai filosofi yang digunakan di dalam Rehab
  3. Residen menunjukkan niat nya untuk menjalani program residensial beserta seluruh konsep, nilai, norma, filosoli, dan kebiasaan (kooperatif).
  4. Residen telah menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan oleh staf sebagai persyaratan masuk fase.

C. Primary Stage

Tahap primary merupakan tahap dimana residen memasuki proses pelayanan. Tahap ini bertujuan untuk memperkuat kondisi stabil yang telah dicapai tahan induction,

Fase dalam tahap primary

Dalam tahap primary terdapat beberapa fase sesuai dengan kemampuan residen untuk menyelesaikan proses pelayanan.

1. Younger member (1-3 bulan)

Younger member merupakan fase awal pada program primary, terdiri atas para residen yang dinilai telah siap untuk mengikuti proses pelayanan. Pada fase ini residen diharapkan dapat menjalani berbagai konsep serta kegiatan yang telah diberikan pengertian selama masa induction.

a. Tujuan

  • Belajar memahami perangkat fasilitas yang digunakan hirarki dan aplikasinya didalam berbagai grup.
  • Belajar untuk mengerti dan memahami arti disiplin diri mengikuti pengarahan yang diberikan yang berkaitan dengan dan untuk filosofi tidak tertulis.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok seperti: static group, group confrontation ( kelompok konfrontasi ), ecounter group (kelompok ecounter) dan mengangkat pull up setiap paginya didalam morning meeting.
  • Belajar untuk memahami konsep struktur organisasi.
  • Belajar untuk menerima perasaan-perasaan yang ada dan mengidentifikasi perasaan yang timbul.
  • Belajar bertanggung jawab untuk bekerja dalam sebuah tim dan antar tim, serta berkomunikasi dengan baik.
  • Belajar dari konsep self help dan mutual help.
  • Belajar dan memahami konsep hidup sehat.

b. Target dan evaluasi
  • Dapat memahami perangkat rehabilitasi beserta filosofi digunakan.
  • Berperan aktif dalam aktivitas sehari-hari.
  • Mampu dan mau bertanggung jawab sesuai dengan peran yang harus dilaksanakan pada fase younger mamber.
  • Mampu mengidentifikasi berbagai perasaan yang ada dan tingkah laku negatif yang harus diubah.
  • Memenuhi syarat kenaikan fase yang ditetapkan oleh staf.

2. Middle Peer (1-2 bulan)

Residen yang dinilai menenuhi berbagai target selama fase younger member selanjutnya memasuki fase middle peer. Pada fase ini residen diharapkan dapat menunjukkan yang cukup baik sebagai role model untuk residen yang berada pada fase dibawahnya serta menunjukkan perkembangan yang memuaskan dalam pelaksanaan program pelayanan sehari-hari.

a. Tujuan

  • Belajar memahami secara keseluruhan konsep program rehabilitasi.
  • Belajar memahami konsep pengembangan diri secara benar(tidak berdasarkan tuntunan pribadi).
  • Belajar untuk percaya sepenuhnya terhadap komunitas.
  • Belajar memahami hubungan antara program yang dijalankan dengan kenyataan yang terjadi diluar rehab.
  • Belajar memahami tanggung jawab sebagai seorang ramord, expeditor dan kepala departement.
  • Belajar proaktif berpartisipasi dalam berbagai sesi kelompok (misalnya pada morning meeting, group confrontation, group ecounter).
  • Belajar mengobservasi keadaan nimah dan komunitas pantidan mengangkat isu tersebut pada pre morning meeting.
  • Belajar bertanggung jawab untuk bekerja secara team.
  • Belajar mengerti perasaan yang ada dan dapat membedakan perasaan penyangkalan (denial) yang ada di dalam diri.
  • Belajar membantu untuk older member residen yang lebih senior dan staf untuk menjalankan berbagai perangkat TC.
  • Belajar untuk membentuk personal growth (pengembangan diri) dengan baik.

b. Target dan evaluasi

  • Dapat mengutarakan isu yang muncul di lingkungan komunitas panti tanpa rasa sungkan.
  • Dapat menunjukkan performanya sebagai saudara yang sudah ada lebih lama di dalam program.
  • Dapat menjadi panutan bagi residen yang berada di younger member.
  • Dapat bertanggung jawab dalam memimpin sebuah departemen kerja.
  • Dapat memahami dan menggunakan perangkat program yang ada dalam menunjang proses pemulihannya
  • Memenuhi syarat kenaikan fase yang diberikan oleh staf.
  • Dapat menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam satu hari.
  • Dapat sepenuhnya mengerti konsep "trust your in environment" dan "blind faith".

3. Older member (1-2 bulan)

Residen middle peer yang secara konstan menunjukkan perkembangan diri performa yang baik terutama untuk berbagai kewajiban yang menuntut tanggung jawab seorang pemimpin, maka mereka berhak mengikuti fase akhir program primary, yaitu fase older member.Pada fase ini residen diharapkan menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang baik dan mampu menjadi panutan bagi seluruh residen yang berada pada rumah primary.

a. Tujuan

  • Melatih jiwa kepemimpinan (leadership skill) dan dapat berkoordinasi dengan sesama komunitas dan staf.
  • Belajar memahami secara mendalam berbagai komponen program (pull up,seminar dan sebagainya).
  • Belajar menjelaskan inti dari berbagai macam permasalahan, yang menyangkut tingkah laku,pola pikir,dan perasaan yang ada.
  • Belajar untuk memulai berinteraksi dengan masyarakat keluarga sebagai basis utama.
  • Belajar mengerti konsep dinamika kelompok
  • Belajar mengerti dan mengidentifikasikan proses dari sebuah kelompok
  • Belajar menggunakan konfrontasi dan komunikasi dengan tepat. 
  • Belajar memahami struktur proses dari fisik, emosi.pola pikir danspirinal dari dalam diri.
  • Belajar memahami konsep budaya TC dan belajar dari pengalaman TC
  • Menjelaskan tentang berbagai perangkat baru seperti kesempatan meninggalkan rumah

b. Target dan evaluasi

  • Memahami teraputik komunitas terhadap pemulihan dirinya.
  • Memahami tugas dan tanggung jawab coordinator of department (COD).
  • Memfalisitasi jalannya perangkat (tools) dan beberapa jadwal harian lainnya.
  • Menjadi panutan yang baik bagi anggota komunitas lainnya
  • Mengaplikasikan program yang ada dalam kehidupan sehari-hari,
  • Memenuhi persyaratan ditetapkan oleh staf

Kriteria Menyelesaikan Tahap Primary

Kenaikan residen dari tahap primary ke tahap re-entry dilakukan setelah residen memenuhi kriteria sebagai berikut :

(a) Jumlah waktu selama tahap primary meskipun tidak mutlak, jumlah hari minggu bulan yang dilalui selama tahap primary menjadi pertimbangan untuk mencalonkan residen ke fase re-entry.

(b) Performa selama tahap primary
  • Menunjukkan perkembangan dan performa yang baik sesuai dengan target program primary
  • Menjadi panutan yang baik.
  • Memahami dan melaksanakan filosofi TC yang tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
  • Mau serta mampu melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan tanpa harus di-supervisi.
  • Menyelesaikan berbagai tugas dan kewajiban yang diberikan sebagai syarat memasuki re-entry.
  • Pada tingkat tertentu residen dapat menyelesaikan permasalahan individu isu yang berkaitan dengan pribadinya
    (c) Kehatan dan status medis
    • Memahami kondisi medik dirinya.
    • Mau serta mampu merawat kesehatan dirinya.
      (d) Vocational educational
        Memiliki arah dan rencana yang cukup jelas dan rasional berkaitan dengan sekolah/kuliah/pekerjaan yang akan ditekuni.
            (e) Hubungan dengan keluarga/significant others
            • Sampai tingkat tertentu, beberapa masalah yang yang berkaitan dengan hubungan keluarga telah diselesaikan, terutama yang memberikan dampak besar pada program pemulihan dirinya.
            • Mau serta mampu meningkatkan (kualitas) hubungan keluarga.
            • Perlu diperhatikan bahwa jika secara profesional dinilai usaha-usaha perbaikan hubungan cenderung akan memperparah keadaaan, maka residen perlu dibantu untuk tetap melanjutkan/membina kehidupannya tanpa harus berkutat dalam permasalahan tersebut.

            D. Re-entry Stage

            Re-entry dalam proses pelayanan ini adalah tahap dimana residen dilatih untuk bergabung dengan keluarga, lingkungan masyarakatnya, lingkungan sekolah. Tujuan tahap ini adalah meningkatkan interaksi residen dengan lingkungan sosialnya, namun proses pelayanan belum sampai pada tahap terminasi.

            Konsep Umum

            Dalam Re-entry dikenal beberapa konsep umum yang menjelaskan posisi rehab dan residen dalam melaksanakan program, antara lain :
            1. Permulaan recovery pemulihan atas adiksi tidak digunakannya narkoba dalam tahap primary tidak dapat dipandang sebagai abstinensia total karena pada umumnya pada tahap tersebut residen Tidak memiliki pilihan lain. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena ketika residen memasuki tahap re-entry terdapat berbagai faktor dalam masyarakat yang secara dinamis mempengaruhi residen yang memmungkinkannya menggunakan narkoba kembali.
            2. Residen jika primary dipandang sebagai masa pemulihan kondisi hidup serta stabilisasi masa pemulihan kondisi hidup serta stabilisasi psikologis, maka re-entry dipandang sebagai proses reintegrasi, secara bertahap untuk kembali dan berfungsi sesuai peran dan kemampuannya di masyarakat umum.
            3. Separasi dan individualisasi
              • Residen bergerak dari lingkungan berstruktur dan terkendali sangat ketat menuju kearah independensi.
              • Residen dibimbing keluar dari "képompong" residensial primary di mana segala sesuatu bersifat jelas, tersedia, dan mengikat ( rekan sebaya, staf, dan berbagai fasilitas lainnya ) ke arah lingkungan yang lebih bersifat independen dan lebih dinamis.
              • Residen dibimbing agar memiliki keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan sendiri.
            1. Asimilasi dan adaptasi
              • Residen mulai dihadapkan pada dinamika kehidupan umum bermasyarakat mengadaptasi kembali nilai, norma, dan kebiasaan masyarakat umum, yang diawali dari lingkungkan keluarga.
              • Dalam memasuki kehidupan masyarakat umum dan dinamikanya, residen dibimbing untuk memiliki kehidupan sendiri yang bertanggung jawab. Dampak tekanan kehidupan dapat dirasa lebih berat bagi para residen yang belum secara optimal dapat menerapkan keterampilan hidup (life skills) yang ditanamkan dan dilatihkan pada tahap-tahap sebelumnya.
            1. Penanganan residen

              • Setiap residen bersifat unik sehingga harus ditangani dengan cara yang berbeda-bedapula.
              • Dengan struktur yang lebih luwes dibandingkan primary, para staf harus memiliki kemampuan untuk mengurangi kendali sang umumnya dilakukan pada fase primary.
              • Jika seorang residen mengalami hambatan maupun kesulitan yang cukup dilaksanakan program re-entry, maka ia diberi kesempatan untuk primary tanpa ada stigma kegagalan

            1. Network

            Sejalan dengan perkembangan program pemulihan residen, Lapas/Rutan tersebut memiliki jaringan yang luas serta dapat digunakan untuk menyalurkan kebutuhan program pemulihan yang bersifat pengembangan individu, misalnya tempat kursus les sekolah menengah, sekolah tinggi, rumah sakit, instansi pemerintah terkait, perusahaan, dan organisasi lamnya

            Isu-Isu kritis

            Beberapa isu kritis dalam tahap re-entry antar lain:

            a. Separasi

            • Separasi merupakan masalah dependensi ketergantungan kepada tempat maupun sekelompok orang di mana residen mungkin akan merasa segan takut melanjutkan program rehabilitasi karena sudah lebih nyaman berada di tahap saat itu.
            • Takut akan kegagalan vang mungkin tercemin dalam berbagai sikap atau perilaku ang bahkan tidak disadari residen.

            b. Sugesti

            • Residen kemungkinan akan terus merasakan sugesti, meskipun berbulan-bulan tidak menggunakan narkoba.
            • Sugesti dipicu melalui panca indera (pengelihatan, penciuman, pendengaran, merasakan, ingatan) berkaitan dengan keberadaan orang lain, berbagai macam tempat/lokasi, benda-benda tertentu, berbagai kejadian internal dan eksternal dalam kehidupan seorang pencandu.
            • Residen harus dibimbing dalam mengeksplorasi masalah relapse (mengidentifikasi situasi dan kondisi internal maupun eksternal yang dapat memicu lapse/relapse termasuk bagaimana untuk menghadapi sugesti tersebut).

            c. Kebutuhan akan jaringan sosial yang baru

            • Jaringan sosial yang lama kemungkinan besar merupakan faktor yang beresiko tinggi untuk relapse.
            • Belajar untuk bersosialisasi di lingkungan baru (asing)
            • Dapat memanfaatkan self-help groups/support groups
            • Kemungkinan muncul ketakutan residen jika diketahui ia (bekas) pecandu.
            • Penyesuaian kepada berbagai kegiatan serta sumber kepuasan vang bebas narkoba
            • Mengembangakan minat (interest/ hobi) maupun kegiatan di waktu senggang.
            • Menikmati pola rekreasi lama dan kepuasan hidup secara sehat tanpa menggunakannarkoba.
            • Belajar berbagai keterampilan bersosialisasi yang baru, bebas narkoba
            d. Belajar menghadapi tekanan, stres dan frustrasi.
            • Belajar untuk menghadapi tekanan sehari-hari (tekanan) tanpa narkoba, kemampuan untuk mentolerir ketidaknyamanan.
            • Mengenali dirinya yang rentan terhadap obat obatan vang bersifat mengurangi/menghilangkan stres.
            • Mempelajari berbagai cara baru untuk menghadapi tekanan serta menata stres secara efektif.

            e. Keinginan untuk menjalani hubungan personal.
            • Memulai dan belajar untuk memelihara hubungan personal yang sehat waktu.
            • Hubungan lama yang bersifat negative biasanya merupakan faktor beresiko tinggi untuk relapse sehingga harus diakhiri
            • Hubungan terdahulu yang sangat berarti dan kemungkinan bersifat sehat namun sudah rusak perlu diperbaharui dengan mengembangkan hubungan baru
            • Hubungan antara narkoba dan seks harus dipelajari kembali dengan benar sehingga dapat dikembangkan sikap dan perilaku baru yang lebih sehat.
            • Hubungan personal pada tahap-tahap awal pemulihan dapat menyita perhatian dan memberikan tekanan yang tidak sehat (terlalu terkonsentrasi pada pasangan, tidak menyadari masalah dirinya, biasa terjadi ketika hubungan personal dijalankan untuk lari dari permasalahan yang sebenarnya).
            • Kedewasaan serta waktu yang tepat untuk memulai hubungan personal merupakan faktor penting agar hubungan tersebut dapat mendukung pemulihan, bukan cenderung menghambat menghancurkan pemulihan
            f. Keberadaan narkoba dan berbagai tekanan untuk menggunakan kembali
              • Harus ditumbuhkan kepercayaan diri yang tinggi pada residen bahwa dirinya bernilai dan dapat dengan efektif melewati rintangan yang mungkin timbul dalam pemulihannya.
              • Kepercayaan diri tersebut dapat mempertahankan dirinya relapse dan semakin menjauh dari pemikiran untuk menggunakan narkoba kembali.
              • Belajar untuk memberikan reaksi dan tindakan yang sesuai jika suatu saat memakai narkoba kembali agar tidak terjerumus ke dalam kebiasaan lama (full-blown relapse)

              E. After Care Stage

              Program aftercare memiliki arti yang sangat penting bagi para mantan penyalahguna narkoba. Dalam masa ini, mereka akan lebih ditempa untuk siap kembali ke masyarakat untuk bekerja atau mendapatkan penghasilan sendiri. Mereka butuh kesiapan dan bekal yang lebih maksimal dalam upaya meningkatkan taraf hidupnya kembali di tengah masyarakat.

              Unsur-unsur yang sangat mendukung upaya pembinaan lanjut bagi alumni narkoba adalah:

              1. Faktor Keluarga

              Faktor keluarga membantu alumni tetap abstinence perlu diperhatikan terutama dalam hubungan alumni dengan co-dependents (orangtua, suami, istri, anak, pacar dan keponakan). Co-dependents ini mempengaruhi aspek emosional, psikologi dan tingkah laku alumni dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, terutama keberadaan alumni dalam keluarga lainnya. \

              2. Teman Sebaya (Peer Group)

              Pada usia remaja, peran teman sebaya sangat penting terutama dalam membentuk identitas dan model bagi conformity (perilaku apa yang harus ditunjukkan) Co-dependents dalam hal ini harus mampu mengarahkan alumni untuk mendapatkan teman sebaya yang positif, terutama untuk menunjang agar alumni bertahan untuktidak menggunakan narkoba lagi.

              3. Lingkungan Kerja (Work Place)

              Pengembangan lingkungan kerja dalam pembinaan lanjut dalam rangka membentuk hubungan dan jaringan kerja merupakan titik awal suatu keberhasilan. Dalam proses pengembangan ini perlu dibentuk kesepakatan antara berbagai pihak yang memiliki kompetensi dan kepentingan dalam melaksanakan pemenuhan kebutuhan pada masing-masing pihak. 

              Pemenuhan kebutuhan pada pihak pencari kerja dengan pihak pengguna tenaga kerja dan pencetak tenaga kerja terampil, mandiri dan memiliki kompetensi dalam bentuk kesepakatan bersama yang realistik

              4. Lingkungan Sosial Masyarakat

              Dukungan lingkungan sosial dapat terwujud melalui kesiapan organisasi lokal menerima dan melibatkan eks penyalahguna narkoba dalam kegiatan masyarakat. Pada gilirannya hal ini diharapkan akan menumbuhkan rasa percaya diri eks penyalahguna narkoba dalam mengaktualisasikan dirinya.

              5. Pengetahuan Tentang Relapse

              Relapse atau kekambuhan diartikan sebagai suatu kondisi dimana seorang alumnikembali memakai narkoba sebagaimana dia melakukannya dahulu. Relapse adalahsuatu proses, bukan kejadian tunggal, dimana seseorang setelah dinyatakan abstinensia kembali menggunakan narkoba. 

              Kekambuhan akan terjadi jika komponen di sekitar alumni tidak dipersiapkan sengan baik (Co-dependents). Rasa kesal, menghindar dari relasi sosial yang baik dan ingin kembali ke dunia narkoba tidak akan terjadi jika semua pihak memiliki sikap yang positif terhadap alumni.

              Sumber:

              Muhammad Ali Equatora. 2017. Rehabilitasi Sosial Pengguna Narkoba. Depok: Bitread Publishing.

              Posting Komentar untuk "Tahap Pelayanan Rehabilitasi Sosial Pengguna Narkoba"