Dampak Positif dan Negatif Perubahan Sosial - Dzikri Khasnudin
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dampak Positif dan Negatif Perubahan Sosial

Setiap perubahan sosial membawa dampak bagi masyarakat. Misalnya, perubahan transaksi pembayaran dari masa ke masa. Dulu, sistem pembayaran menggunakan sistem barter. Dalam perkembangannya, sistem pembayaran mengalami kemajuan. Kini sistem pembayaran sudah canggih menggunakan ATM dan e-banking melalui smartphone

Meskipun menawarkan kemudahan dalam melakukan transaksi, di sisi lain kemudahan tersebut mendorong masyarakat menjadi berperilaku konsumtif. Masyarakat mudah tergoda mengikuti keinginan daripada memprioritaskan kebutuhan. Akibatnya, masyarakat mudah boros dan cenderung berperilaku hedonis. Kondisi tersebut menunjukkan salah satu dampak perubahan sosial. Lantas, apa saja dampak perubahan bagi masyarakat.

Dampak Positif dan Negatif Perubahan Sosial

Dampak Positif Perubahan Sosial

Perubahan sosial dapat menyebabkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Melalui perubahan sosial, masyarakat dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Lantas, apa saja dampak positif perubahan sosial? Berikut beberapa dampak positif perubahan sosial.

1. Modernisasi

Modernisasi berasal dari bahasa latin "modernus" yang terbentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus merujuk periode waktu masa kini. Menurut Nanang Martono (2014: 172), modernisasi merupakan suatu proses perubahan ketika masyarakat sedang memperbarui dirinya untuk mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Artinya, masyarakat melakukan perubahan sosial yang direncanakan untuk mencapai kehidupan modern. 

Misalnya, perkembangan media komunikasi dari yang tadinya menggunakan surat kemudian berkembang menjadi telepon seluler. Perkembangan media komunikasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi komunikasi.

Perkembangan teknologi komunikasi membawa dampak pada kegiatan komunikasi masyarakat. Penemuan teknologi telegram hingga berkembang menjadi video call  mendorong proses komunikasi semakin lancar. Masyarakat tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk berbagi kabar. Masyarakat dapat berbagi kabar dan informasi dimana saja dan kapan saja.

Modernisasi dalam masyarakat tidak hanya terjadi di bidang iptek. Menurut Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, modernisasi menyangkut aspek-aspek sosiodemografis yang tergambar dalam istilah gerak sosial. Artinya, proses unsur-unsur sosial, ekonomi, dan psikologi masyarakat mulai mengarah pada pola perilaku yang terwujud dalam aspek-aspek kehidupan modern.

Modernisasi dapat bersifat materil dan non-materil seperti pemanfaatan teknologi, perkembangan nilai dan norma sosial, serta pola perilaku masyarakat. Selain itu, Soerjono Soekanto berpendapat bahwa perwujudan aspek modernisasi mencakup perubahan struktural yang meliputi lembaga-lembaga sosial, norma-norma sosial, stratifikasi sosial, dan hubungan sosial.

Menurut Alex Inkeles dalam Nanang Martono (2014: 60-61), modernisasi berhasil jika masyarakat memenuhi persyaratan berikut. 
  • Bersedia menerima gagasan-gagasan baru dan melaksanakan gagasan baru
  • Peka terhadap waktu,artinya mementingkan masa kini dan masa mendataang dengan belajar dari pengalaman masa lampau.
  • Terlibat dalam perencanaan dan organisasi, serta menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan.
  • Memiliki kepercayaan terhadap keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan demikian, modernisasi dapat disebut sebagai perubahan sosial. Hal ini karena perubahan pada sistem dan struktur masyarakat yang membentuk kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, maju, dan modern.

2. Efisiensi dalam Kehidupan Masyarakat

Perubahan sosial dapat mendorong kehidupan masyarakat lebih efisien. Efisien berarti masyarakat mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Efisiensi juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang sesuai harapan secara cepat. Perubahan sosial yang mendorong proses efisiensi biasanya berkaitan dengan perkembangan teknologi.

Misalnya, efisiensi dalam penggunaan moda transportasi. Saat ini Anda dapat dengan mudah memilih moda transportasi ketika bepergian. Anda dapat mempertimbangkan memilih transportasi sesuai destinasi yang dituju secara tepat. 

Perkembangan teknologi transportasi ini memberikan dampak bagi masyarakat berupa efisiensi waktu tempuh. Dengan demikian, masyarakat dapat melaksanakan lebih banyak kegiatan tanpa perlu menghabiskan banyak waktu dalam perjalanan.

3. Kesejahteraan Masyarakat Meningkat

Berbagai perubahan sosial progress dalam masyarakat dapat memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Perubahan sosial progress membawa perubahan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Misalnya, perbaikan layanan kesehatan. Semakin banyaknya pos pelayanan kesehatan dalam masyarakat membawa perubahan berupa meningkatnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Kondisi demikian dapat membawa perubahan berupa peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Contoh lain peningkatan kesejahteraan antara lain peningkatan perekonomian warga, peningkatan angka kecukupan gizi, dan peningkatan kemampuan dalam mengakses pendidikan.

4. Reorganisasi

Reorganisasi diartikan sebagai penyusunan atau penataan kembali suatu kelembagaan. Kelembagaan suatu masyarakat terdiri atas nilai dan norma sosial serta struktur sosial dalam masyarakat.

Reorganisasi dilakukan ketika nilai dan norma dalam masyarakat dianggap tidak berfungsi dengan baik atau nilai dan norma tersebut mengalami guncangan/pergeseran dari tradisional ke modern. Oleh karena itu, reorganisasi diperlukan untuk mengembailkan keteraturan sosial dengan memperbarui atau menciptakan nilai dan norma sosial baru.

Reorganisasi juga ditunjukkan dengan perubahan struktur sosial dalam masyarakat seperti pergantian kepemimpinan dan perangkat dalam masyarakat. Pelaksanaan pemilihan umum merupakan contoh nyata reorganisasi struktur sosial dalam masyarakat.

5. Integrasi

Integrasi diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh. Integrasi dapat terjadi pada beberapa budaya, bahkan individu atau kelompok sosial dalam masyarakat. Integrasi dalam perubahan sosial dapat ditunjukkan dengan proses akulturasi dan asimilasi dalam masyarakat.

Proses akulturasi dan asimilasi menunjukkan penyesuaian dan peleburan antara kebudayaan lama dan baru yang mampu menciptakan keseimbangan serta keteraturan dalam masyarakat.

Keterbukaan suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain mendorong terjadinya integrasi. Salah satu wujud integrasi tersebut misalnya parade budaya yang menampilkan beragam kesenian daerah. 

Integrasi budaya antarkelompok mendorong tiap-tiap kelompok saling memahami dan menghargai perbedaan budaya. Pemahaman tersebut dapat mendorong terciptanya integrasi sosial sehingga dapat mengikis prasangka negatif antarkelompok.

Dampak Negatif Perubahan Sosial

Seperti dua sisi mata uang, perubahan sosial tidak selalu berdampak positif. Perubahan sosial juga dapat menimbulkan dampak negatif. Lantas, apa saja dampak negatif perubahan sosial? Berikut ini beberapa contoh dampak negatif perubahan sosial.

1. Disorganisasi 

Disorganisasi diartikan sebagai keadaan tanpa aturan karena adanya perubahan pada lembaga sosial tertentu. Disorganisasi juga dapat dijelaskan sebagai proses pudarnya atau lemahnya norma dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat yang disebabkan oleh perubahan sosial. Disorganisasi ditandai adanya masalah sosial berupa penyimpangan sosial.

Lemahnya nili dan norma sosial yang dipengaruhi oleh perubahan sosialdapat terjadi karena masuknya kebudayaan dari luar. Sebagai contoh, berkembangnya westernisasi dapat melunturkan budaya lokal karena perilaku dan gaya hidup dalam masyarakat cenderung menyimpang dari nilai-nilai lokal. Lemahnya nilai dan norma sosial juga dapat disebabkan oleh perubahan dalam lembaga kemasyarakatan akibat perang, konflik, revolusi, dan bencana alam.

2. Culture Shock

Culture shock merupakan keadaan masyarakat yang merasa kebingungan terhadap kebudayaannya. Keadaan ini dapat terjadi karena perubahan dalam waktu singkat dapat membingungkan masyarakat jika masyarakat tidak dapat segera beradaptasi.

Contoh culture shock adalah perubahan sosial yang disebabkan oleh penguasaan teknologi.

Bagi beberapa kelompok masyarakat, pemanfaatan teknologi komputer dan internet bukan suatu hal baru. Bahkan, pemanfaatan teknologi tersebut sudah menjadi bagian gaya hidup. Pemanfaatan teknologi tersebut juga dilirik oleh pemerintah untuk diterapkan dalam kebijakannya.

Sebagai contoh, pemerintah mengubah kebijakan tentang penerimaan peserta didik baru manual menjadi daring serta perubahan pelaksanaan Ujian Nasional berbasis kertas menjadi berbasis komputer.

Bagi masyarakat perkotaan, perubahan ini disambut baik, tetapi bagi masyarakat di pedesaan perubahan tersebut menimbulkan kendala besar. Beberapa daerah belum siap karena sarana dan prasarana belum mendukung sehingga membutuhkan waktu untuk mengikuti perubahan tersebut.

3. Kesenjangan Budaya (Culture Lag)

Menurut William F. Ogburn, culture lag merupakan pertumbuhan kebudayaan yangtidak selalu sama cepat dalam keseluruhan unsur budaya lainnya. Artinya, ada kebudayaan yang tumbuh secara cepat dan ada pula bagian lain yang pertumbuhannya secara lambat.

Dalam kehidupan masyarakat, perkembangan kebudayaan materil ditandai dengan penemuan baru (discovery) dan invention  yang berkaitan dengan teknologi. Sementara itu, kebudayaan non-materiel yang meliputi kebiasaan, tata cara, dan pola organisasi sosial harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dalam kebudayaan materil.

Sebagai contoh, internet disalahgunakan untuk melakukan tindak kejahatan. Kondisi tersebut disebabkan masyarakat belum siap menerima perkembangan materil secara cepat sehingga unsur non-materil menjadi terganggu.

4. Peningkatan Perilaku Menyimpang dan Kriminalitas

Globalisasi mendorong keterbukaan masyarakat terhadap pengaruh budaya lain. Apabila masyarakat tidak menyaring berbagai pengaruh budaya asing dapat menyebabkan pengaruh negatif ikut diserap dan diadaptasi masyarakat.

Sebagai contoh, pengaruh budaya Barat terkait pergaulan bebas yang diadaptasi oleh remaja di Indonesia. Pengadaptasian budaya tanpa memperhatikan nilai dan norma lokal mendorong munculnya perilaku menyimpang. 

Perilaku menyimpang merupakan perilaku individu/kelompok yang tidak sesuai dengan nilai, norma dan adat suatu kelompok. Hanya saja, realitas yang sering terjadi ialah pelaku menganggap masyarakat melarang budaya yang tidak sejalan dengan nilai dan norma sosial tersebut kuno dan ketinggalan zaman. Padahal tidak semua pengaruh budaya asing bersifat positif dan layak diikuti. 

Selain perilaku menyimpang, perubahan sosial mendorong peningkatan kriminalitas dalam masyarakat. Faktor pendorong kriminalitas atau kejahatan sosial dapat disebabkan adanya tekanan-tekanan, baik ekonomi maupun sosial.

Kriminalitas dapat dilatarbelakangi beragam faktor, salah satunya tekanan ekonomi. Misalnya, seseorang mencuri demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kebutuhan hidup senantiasa bertambah setiap waktu, sedangkan kemampuan ekonomi terkadang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut dapat membutakan hati seseorang sehingga menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidup.

Apakah setiap orang yang mengalami perubahan sosial regress akan melakukan perilaku menyimpang dan tindak kriminalitas? Tentu saja tidak. Semua kembali kepada diri tiap-tiap individu. Apabila individu tersebut memiliki iman kuat, ia tidak akan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Ia akan berupaya mencari jalan keluar lainyang tidak menyimpang untuk menghadapi dampak perubahan sosiol regress.

5. Anomi 

Anomi merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Emile Durkheim untuk menggambarkan keadaan kacau atau tanpa peraturan. Emile Durkheim menyatakan anomi adalah suatu keadaan tanpa norma. Keadaan tanpa peraturan tersebut dapat disebabkan oleh perubahan sosial.

Sebagai contoh, perang menyebabkan nilai dan norma masyarakat memudar karena lembaga sosial tidak berfungsi optimal. Sementara itu, masyarakat belum mampu menciptakan nilai dan norma baru yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. Kondisi inilah yang disebut anomi.

6. Pudarnya Solidaritas Sosial

Solidaritas merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya solidaritas sosial, hubungan sosial antarmasyarakat sekitar dapat terjalin dengan baik. Akan tetapi, saat ini kehidupan masyarakat mulai menunjukkan kecenderungan pudarnya solidaritas sosial yang mereka miliki.

Masyarakat cenderung mementingkan kesibukan pribadi sehingga kegiatan berinteraksi dengan lingkungan sekitar sering terabaikan. Misalnya ketergantungan terhadap gawai menimbulkan dampak perubahan dalam masyarakat, salah satunya memudarkan rasa solidaritas sosial.

Ketergantungan terhadap gawai dapat mengikis rasa empati dan simpati seseorang. Selain itu, perilaku tersebut dapat mengurangi intensitas aktivitas interaksi sosial dengan sesam. Apabila gejala tersebut terus terjadi sangat memungkinkan mendorong seseorang menjadi antisosial.

Sikap antisosial memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, individu tersebut menjadi individualis dan cenderung menyendiri, termasuk keluarga sendiri. Kedua, individu menjadi introvert atau tertutup. Individu tersebut memilih kegiatan yang dapat dilakukan sendiri tanpa melibatkan banyak orang. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, perilaku antisosial sebenarnya membahayakan bagi diri sendiri karena dapat menjerumuskan pada perilaku menyimpang.

7. Pencemaran Lingkungan 

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat menyebabkan permasalahan sosial seperti pencemaran lingkungan. Teknologi-teknologi yang digunakan manusia menyebabkan polusi yang mengancam kelestarian lingkungan. Asap yang ditimbulkan sepeda motor, modil, dan berbagai mesin produksi dapat menurunkan kualitas udara. Selain itu, berkembangnya industrialisasi dalam masyarakat menyebabkan eksploitasi alam sehingga merusak kelestarian alam.

Aktivitas konsumsi masyarakat yang semakin meningkat juga berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sampah, baik organik maupun anorganik. Proses pemusnahan sampah dan daur ulang sampah ternyata tidak sebanding dengan banyaknya sampah yang diproduksi masyarakat. Sampah pun cepat menggunung dan menyebabkan pencemaran, baik tanah, air, maupun udara.

Penumpukkan limbah rumah tangga dan industri juga dapat menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan rusaknya ekosistem. Oleh karena itu, manusia hendaknya menjalin interaksi dengan alam secara baik. Interaksi dengan alam dapat ditunjukkan dengan membuang sampah pada tempatnya, melakukan reboisasi, dan mendaur ulang sampah. 

Dengan membiasakan perilaku positif tersebut, berarti Anda turut berpartisipasi dalam mengembangkan dan mengimplementasikan sikap peduli terhadap lingkungan.

8. Marginalisasi

Perubahan lingkungan dapat menyebabkan masyarakat sekitar mengalami perubahan sosial. Bagaimana dampak perubahan bagi masyarakat sekitar kawasan industri? Bagaimana nasib para petani setelah mengami pergeseran lahan tersebut? Mengapa mereka termarginalkan karena pembangunan kawasan industri?
Dampak Positif dan Negatif Perubahan Sosial

Marginalisasi berasal dari kata margin, yang berarti batas, pinggir, atau tepi. Marginalisasi merujuk pada suatu kondisi atau situasi seseorang atau kelompok yang dibatasi perannya, diabaikan hak-hak yang seharusnya didapat, atau berada pada wilayah pinggiran dari komunitas dan sistem sosial dalam masyarakat. 

Dengan demikian, orang-orang yang termarginalisasi mengalami pembatasan terhadap berbagai aspek kehidupan sehingga berada pada pinggiran atau tepi (terabaikan oleh sistem dalam masyarakat).

Salah satu contoh marginalisasi adalah proses industrialisasi di pedesaan. Industrialisasi di kawasan pedesaan mengakibatkan marginalisasi penduduk sekitar, terutama yang berprofesi sebagai petani. Marginalisasi terjadi karena para petani semakin terpinggir dari mata pencaharian awalnya. Para petani bekerja di lahan yang semakin sempit akibat industrialisasi.


Setiap perubahan sosial dapat membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Masyarakat memiliki respos berbeda dalam menghadapi perubahan sosial. Masyarakat akan menerima perubahan sosial apabila masyarakat mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang telah mengalami perubahan. Akan tetapi, masyarakat akan menolak perubahan apabila unsur kebudayaan baru tidak sesuai nilai dan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, perubahan sosial harus disikapi dengan kritis dan bijak agar menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Sumber:

Kusumantoro, Sri Muhammad. 2019. Pengayaan Pembelajaran Sosiologi: Perubahan Sosial. Surakarta: Aksarra Sinergi Media

Posting Komentar untuk "Dampak Positif dan Negatif Perubahan Sosial"