Bentuk-bentuk Pola Asuh Orangtua Dalam Mendidik Anak - Dzikri Khasnudin

Bentuk-bentuk Pola Asuh Orangtua Dalam Mendidik Anak

dzikrikhasnudin.com - Pada kesempatan ini, saya akan membahas mengenai pola asuh orangtua dalam mendidik anak. Sebelumnya sudahkah kalian mendengar atau mengetahui apa itu pola asuh orangtua?

Pola asuh orangtua bisa artikan sebagai suatu cara atau perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka. Interaksi dengan orangtua biasanya dapat berupa bimbingan, nasihat, memberi perintah, memotivasi, dan sebagainya. 

Apabila dilihat secara bahasa berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. 

Pola berarti  corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap. 

Sedangkan kata asuh dapat mempunyai arti menjaga (merawat, mendidik) anak kecil, memberikan bimbingan (membantu;  melatih), dan memimpin (mengepalai, serta menyelenggarakan) satu badan/lembaga.

Sederhananya pola asuh adalah cara orangtua dalam merawat dan mendidik anak.

Tujuan dari pola asuh yaitu untuk membentuk kepribadian dan akhlak anak sesuai dengan harapan orangtua. Orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki kepribadian yang baik, sehat secara fisik maupun mental, serta berakhlak mulia sesuai ajaran agama.

Agar tujuan tersebut tercapai, maka orangtua perlu menerapkan pola asuh yang baik terhadap anak.  Lalu seperti apa pola asuh orangtua yang baik itu?

Nah, ini yang akan saya bahas lebih dalam mengenai bentuk-bentuk pola asuh orangtua. Nanti kalian juga bisa membedakan pola asuh seperti apa yang baik diterapkan dalam mendidik anak.
bentuk-bentuk pola asuh orangtua dalam mendidik anak
Simak penjelasan tentang bentuk-bentuk pola asuh berikut.

1. Pola Asuh Otoriter

Dalam teori kepemimpinan, otoriter adalah suatu bentuk kepemimpinan yang bertindak sewenang-wenang dan dipimpin oleh seorang diktator. Kaitannya dengan pola asuh dalam keluarga, orangtua sebagai pemimpin dalam pendidikan anak bertindak secara otoriter.

Artinya ketika mendidik anak, orangtua bertindak secara sepihak tanpa memperhatikan keinginan anak. Jika anak melawan, maka orangtua tidak segan-segan untuk memberikan hukuman.

Komunikasi yang terjadi pada pola asuh otoriter adalah komunikasi satu arah. Orangtua memberikan tugas dan menentukan aturan-aturan mutlak yang harus ditaati dan dipatuhi oleh anak tanpa kompromi.

Jika dalam sosiologi, pola asuh otoriter termasuk dalam sosialisasi represif karena menekankan pada hukuman pada individu (dalam hal ini anak) yang telah melanggar norma atau aturan.

Anak tidak memiliki kesempatan untuk berpendapat, memiliki minat yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang berbeda dengan orangtua. 

Orangtua memang harus menjadi pemimpin bagi anak-anaknya. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti bahwa orangtua dapat memaksakan seluruh kehendaknya terhadap anak. Anak juga memerlukan ruang untuk bergerak, agar ia terlatih untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.

Pola asuh otoriter ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut. 
  • Anak  harus  mematuhi  peraturan-peraturan  orang  tua  dan  tidak  boleh membantah. 
  • Orang  tua  cenderung  mencari  kesalahan-kesalahan  anak  dan  kemudian menghukumnya. 
  • Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak. 
  • Jika terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, maka anak dianggap pembangkang. 
  • Orang tua cenderung memaksakan disiplin. 
  • Orang tua cenderung memaksakan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana. 
  • Tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
Berdasarkan uraian tersebut, maka pola asuh otoriter akan pengaruh pada perkembangan anak. Pengaruh negatif yang biasanya terjadi adalah anak akan merasa tidak bahagia, paranoid/selalu merasa ketakutan, mudah sedih dan tertekan, anak tidak berani mencoba, kepercayaan diri anak rendah, senang berada di luar rumah, serta anak tidak berani mengemukakan pendapatnya.

Meskipun begitu, tetap saja ada sisi positif yang bisa diambil dari pola asuh otoriter yaitu anak cenderung akan berkembang lebih mandiri, lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Bertindak otoriter pasti pernah dilakukan oleh setiap orang dalam situasi tertentu, termasuk dalam mengasuh anak. Hanya saja, intensitas dari tindakan tersebut perlu di kurangi agar tercipta lingkungan keluarga yang harmonis. Bagi orangtua, bersikap keras kepada anak sebaiknya dilakukan hanya pada saat penanaman nilai dan norma serta ajaran agama saja.

2. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis merupakan kebalikan dari pola asuh otoriter atau seringkali disebut juga sebagai pola asuh otoritatif. 

Pola asuh demokratis adalah  adalah suatu cara mengasuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, akan tetapi kebebasan tersebut tidaklah mutlak karena masih terdapat bimbingan yang penuh pengertian dari orang tua. 

Dengan kata lain, pola asuh  demokratis  ini akan banyak memberikan  kebebasan  kepada  anak  untuk mengemukakan  pendapat,  melakukan  apa  yang diinginkannya dengan  tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua.

Pola asuh ini dilaksanakan secara fleksibel/luwes dengan memprioritaskan kepentingan anak. Anak juga dapat berpendapat ketika mengatasi permasalahan keluarga dengan menghadapinya secara tenang, sabar dan terbuka.

Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hal tersebut dilakukan orang tua dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Dalam sosiologi, pola asuh demokratis termasuk dalam sosialisasi partisipatoris (participatory socialization)  yaitu proses sosialisasi yang lebih memfokuskan pada penamaan kebiasaan, adat istiadat, nilai, dan norma tanpa melakukan paksaan dan kekerasan fisik.  Misalnya orangtua memberikan anaknya imbalan/hadiah ketika anaknya berperilaku baik. 

Dalam pola asuh demokratis terjadi interaksi dan komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut.
  • Melakukan sesuatu dalam keluarga dengan cara musyawarah.
  • Menentukan peraturan-peraturan dan disiplin dengan mempertimbangkan keadaan, perasaan dan pendapat anak serta memberikan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak;
  • Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya secara musyawarah, juga dihadapi dengan tenang, wajar dan terbuka;
  • Hubungan antara keluarga saling menghormati : pergaulan antara ibu dan ayah juga saling menghormati, demikian pula orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang;
  • Ada komunikasi dua arah, yaitu anak juga dapat mengusulkan, menyarankan sesuatu pada orang tuanya dan orang tua mempertimbangkan;
  • Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak selalu menggunakan kata-kata yang mendidik, bukan menggunakan kata-kata kasar;
  • Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertimbangkan dan yang tidak baik ditinggalkan;
  • Keinginan dan pendapat anak diperhatikan apabila sesuai dengan norma-norma dan kemampuan orang tua;
  • Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian.
Anak yang dididik dengan pola asuh demokratis cenderung menjalani hidup lebih bahagia, kreatif, terbuka pada orangtua, menghargai dan menghormati orangtua, tidak mudah stress dan depresi, serta cenderung lebih disukai di masyarakat atau lingkungan tempat tinggalnya.

3. Pola Asuh Permissif

Pola asuh permisif dikenal juga dengan pola asuh laissez-faire.  Kata laissez-faire berasal dari Bahasa Perancis yang berarti membiarkan (leave alone).

Jadi, pola asuh permisif merupakan cara mengasuh yang memberikan kebebasan terhadap anak tanpa kontrol sama sekali. Artinya, orangtua yang menerapkan pola asuh permissif ini bersikap cuek terhadap anak. 

Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan ataupun menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berperilaku sesuai dengan keinginanya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.
 
Apa pun yang mau dilakukan anak diperbolehkan bahkan tindakan buruk sekalipun seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas negatif, materialistis, dan sebagainya.

Orangtua cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit sekali bimbingan yang diberikan oleh mereka.

Biasanya pola asuh seperti ini terjadi ketika orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga anak dibiarkan bebas tanpa pengawasan. Orangtua tidak memberikan pendidikan dan pengasuhan yang baik kepada anak. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau tumbuh dan berkembang menjadi apa.

Pola asuh permissif ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  • Tidak ada aturan ketat dari orangtua;
  • Anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar;
  • Tidak ada sistem "reward and punishment'' karena memang tidak ada aturan yang mengikatnya;
  • Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya. 
  • Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh. 
  • Mengutamakan kebutuhan material saja. 
  • Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua)
  • Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.
Pola asuh permissif membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya. Anak memang memiliki rasa percaya yang lebih besar, kemampuan sosial baik, dan tingkat depresi lebih rendah. 

Akan tetapi, anak juga akan lebih mungkin terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah. Anak tidak mengetahui norma-norma sosial yang harus dipatuhinya. 

Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.

Nah, itulah bentuk-bentuk pola asuh orangtua secara umum. Setiap pola asuh yang diterapkan tentu memiliki risiko masing-masing. Kalian juga pasti bisa membedakan mana pola asuh yang sekiranya baik diterapkan dalam mendidik anak. 

Jadi, menurut kalian mana pola asuh yang baik untuk diterapkan dalam mendidik anak?

Salam sejahtera.

0 Response to "Bentuk-bentuk Pola Asuh Orangtua Dalam Mendidik Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel