Penerapan Mediated Learning Experience (MLE) Pada Anak Pra sekolah Ketika Berbelanja Ke Pasar - Dzikri Khasnudin

Penerapan Mediated Learning Experience (MLE) Pada Anak Pra sekolah Ketika Berbelanja Ke Pasar


Mediated Learning Experience (MLE) adalah pengalaman belajar melalui mediasi. MLE merupakan suatu model belajar interaktif yang menekankan peran orang tua atau ibu sebagai mediator dalam interaksinya dengan anak sebagai upaya membantu anak mengenal dunianya. 

Mediated Learning Experience (MLE) sebagai salah satu metode dalam upaya pengasuhan yang menjadikan pengalaman anak sebagai media belajarnya melalui pemanfaatan pengetahuan, ingatan dan pengindraan. 

Dalam Mediated Learning Experience (MLE) terdapat lima  tahapan yaitu focusing,  understanding, responding, disscusing, dan conclusing.
mediated learning experience
Penerapan Mediated Learning Experience (MLE) pada anak dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari contohnya ketika anak mandi, makan, bermain,  mengerjakan pekerjaan rumah, membantu ibu, menemani ibu berbelanja dan aktivitas-aktivitas lainnya. 

Pada implementasinya aktivitas utama yang perlu dilakukan anak-anak dalam menjalani kegiatan sehari-hari adalah bermain sambil belajar. Oleh karena itu, orang tua harus mampu membimbing anak agar setiap pengalaman yang anak alami dapat menjadi pembelajaran bagi anak, melalui pengalaman, anak akan lebih mengingat setiap pembelajaran yang terjadi dalam hidupnya.

Salah satu contoh Mediated Learning Experience (MLE) yaitu ketika anak pra sekolah yang berusia 2-5 tahun menemani ibunya untuk berbelanja ke pasar. Dengan pengalaman tersebut anak akan menangkap berbagai kejadian penting serta cara implementasinya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya dan tugas perkembangannya.

Dalam aktivitas ini anak dapat mengenal daerah di luar rumahnya, anak dapat melihat berbagai interaksi antara pedagang dan pembeli yang datang ke pasar, anak dapat melihat berbagai bentuk dan macam sayuran, buah-buahan, makanan yang dijual, peralatan dan perlengkapan yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari didukung dengan warna dan variasi bentuk serta tempat penyimpanan yang berbeda-beda. 

Melalui pasar anak dapat belajar berbagai kenyataan yang sebenarnya mengenai kehidupan sesuai tugas perkembangannya yaitu dengan menemani ibu belanja ke pasar, anak pra sekolah dapat melatih aktivitas fisik melalui berjalan, berbicara dengan selalu bertanya dan berinteraksi kepada ibunya selama di pasar, anak juga dapat belajar pembentukan konsep sederhana mengenai kenyataan fisik dan sosial, serta anak dapat membedakan yang baik dan yang buruk berdasarkan pengetahuannya.  
  
Contoh anak dapat mengetahui sayuran segar dan sayuran kurang segar melalui pengetahuan yang ibunya berikan. Oleh karena itu, dalam implementasinya memungkinkan anak untuk melakukan koordinasi motorik dan sosial. 

Kegiatan memberikan pembelajaran melalui pengalaman ketika anak berbelanja ke pasar, berfungsi untuk mengembangkan potensi fisik dan sosial, serta kompetensi fisik, sosial, psikologis dan mental melalui interaksi yang dilakukan selama kegiatan berlangsung. 

Skenario peristiwa penerapan Mediated Learning Experience (MLE) pada anak pra sekolah melalui pengalaman ketika berbelanja ke pasar. 

Seorang Ibu rumah tangga pasti memiliki rutinitas sehari-hari yaitu salah satunya membeli kebutuhan sandang dan pangan. Dalam suatu waktu seorang Ibu pasti akan mengajak anaknya untuk menemaninya berbelanja ke pasar. 

Bagi ibu yang cerdas, tentu kesempatan ini akan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran pada anak melalui pengalamannya contohnya seperti yang dilakukan ibu saya. Ibu saya setiap minggu rutin menyempatkan waktu untuk berbelanja kebutuhan ke pasar tradisional dengan mengajak adik perempuan saya yang berusia 4 tahun. 

Ibu saya selalu memanfaatkan kesempatan melalui pengalaman adik saya untuk memberikan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan  kehidupan sehari-hari. 

Contoh implementasinya yaitu pertama Ibu saya mengajak adik saya pergi ke pasar dan mulai menerapakan metode MLE dengan memfokuskan perhatian kepada adik saya atau disebut dengan focusing

Ibu   : "Na, ayo ikut mama ke pasar nanti kita beli sayuran dan bumbu dapur disana." 

Setelah itu,  anak akan memberi respon baik itu dengan ungkapan mau atau tidak mau, namun sebagian besar anak biasanya selalu antusias ketika diajak berbelanja ke pasar. Tentu ini dapat melatih dan mengembangkan kompetensi psikologis pada anak.

Adik : "Ayo Ma, tapi nanti aku ingin membeli mainan dan makanan."

Setelah terjadi kesepakatan, maka ketika tiba di pasar ibu dapat merangasang anak dan mendorong anak untuk senantiasa bertanya mengenai kejadian-kejadian yang dialaminya. 

Adik: "Ma, mau beli apa dulu sekarang?"
  
Langkah kedua, ibu dapat menerapakan tahap focusing pada anak melalui dialog seperti:

Ibu    : "Kita sekarang beli dulu bumbu dapur ya Na, sini lihat mana kira-kira toko yang menjual bumbu yang biasa mama gunakan untuk memasak."
  
Dalam implementasinya anak akan mencari dan berpikir untuk menemukan toko bumbu yang biasa digunakan oleh ibunya untuk memasak dengan memanfaatkan pengetahuan, dan pengindraannya. Hal ini dapat mengembangkan potensi fisik dan kemampuan fisik pada anak. 

Adik : "Itu Ma disana, itu... itu Ma yang itu." (Dengan antusias anak akan menunjuk toko tersebut dan berusaha menarik tangan ibunya untuk mendatangi toko bumbu tersebut).

Setelah itu,ibu memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak mengenai bumbu yang dibutuhkan dan mengenai toko bumbu tersebut. Pada tahapan ini dikenal sebagai tahap understanding atau memberikan pemahaman.

Ibu    : "Oh iya benar, anak mama pintar. Bagaimana bisa tau Nak?Ayo kita kesana untuk mencari bumbu dapur yang kita perlukan. Mama mau beli apa ya kira-kira yang habis itu bawang putih, cabai, dan kecap manis."

Anak akan mendengarkan terlebih dahulu sambil berpikir mengenai bentuk dan wujud dari bumbu tersebut seperti apa dan bagaimana. Oleh karena itu, orang tua harus mampu mendorong rasa ingin tahu dan penasaran pada anak.

Adik : "Ma bawang putih itu yang mana, cabai yang pedas ya Ma? Kalo kecap aku tau."

Langkah selanjutnya setelah anak mengerti, maka akan timbul respon dari anak seperti kalimat di atas anak akan menjawab dan merespon perkataan ibunya. Anak pun akan selalu bertanya dan mencoba mencari tahu mengenai bumbu yang hendak dibeli ibunya. langkah inilah yang termasuk pada tahap responding.

Setelah tiba di toko bumbu, maka akan terjadi tahap discussing antara anak dan ibu melalui cerita yang dibangun. Anak akan berdiskusi, bercerita dan mengajak berbicara kepada ibu bahkan bisa kepada pedagang bumbu tersebut. Ini akan menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kompetensi sosial pada anak.  

Ibu   : "Nak, sudah sampai mama cari bawang putih yang mana ya, cabai yang mana ya." 

Lalu ibu, berinterkasi dengan pedagang. "Pak beli bawang putih satu per empat,  cabai satu per empat dan kecap manis satu botol. "

Anak secara tidak sadar akan mengamati sekeliling pasar dan mencoba mencari tahu apa saja yang terdapat di pasar tersebut. Anak akan mencoba memegang barang belanjaan di pasar seperti memegang bumbu atau sayuran dan buah-buahan di toko tempat ibunya berbelanja. Anak akan mengambil satu jenis barang belanjaan dan akan bertanya kepada ibunya mengenai barang tersebut. 

Adik : "Ma, ini apa?"
Ibu   : "Oh itu apa ya coba tebak apa,  warna apa itu ya? "
Adik : "warna merah, oh aku tau kenapa bawang putih itu disebut bawang putih karena warnanya putih ya Ma?"
Ibu    : "Oh merah ya,  benar bentuknya apa ya? "
Adik  :  "Bentuknya bulat seperti bola. Kalo bawang putih bentuknya bulat tetapi bisa dilepas."
Ibu     : "Oh iya seperti bola punya ade ya, tapi kok ini tidak keras ya tidak seperti bola"
Adik   : "Iya ma,  ini bisa dipijit dan tidak keras. Ini mungkin buah merah." (sambil tersenyum)
Ibu     : "Wah apa ya namanya? Tidak semua buah dinamakan sesuai warna nak."
Adik   : "Tidak tau , tapi aku sering lihat di kulkas dan suka ada di masakan yang mamah buat rasanya asam."

Anak mencoba menggunakan kemampuan pengetahuannya, ingatannya dan pengindraannya. Dengan ini Ibu dapat mencoba mengasah daya ingat anak,  mengasah pengetahuan warna anak,  bentuk-bentuk suatu benda, tekstur dari suatu benda dan aspek lainnya.

Ibu   :"Nah, sekarang coba tebak apa namanya? Nama awalnya to..'
Adik : "Oh iya bu tomat, berwarna merah, bulat dan rasanya asam."
Ibu   : "Iya benar pintar anak Mama, sekarang itung ada berapa tomatnya?"
Adik : "Banyak Ma satu, dua, tiga, empat,  lima,  banyak Ma."
Ibu   :"Iya banyak ya, jadi biar sama bapak penjualnya dihitung dan ditimbang seperti bawang putih dan cabai yang ibu beli tuh ayo lihat supaya ade tambah pintar ya."
Adik : "Iya baik Ma , Mama itu lihat sudah hampir selesai."

Kemudian,  selanjutnya pada tahap akhir yaitu conclusing atau memberi kesimpulan mengenai berbagai jenis bumbu dapur tersebut.

Dengan memberi penjelasan kembali kepada anak dan menegaskannya bahwa bumbu dapur terdiri bermacam-macam dan memiliki fungsi tertentu dengan karakteristik yang berbeda  seperti antara buah tomat, bawang putih,  cabai dan kecap manis.

Masing-masing dari bumbu tersebut memiliki warna, bentuk, rasa, tekstur dan wujud yang berbeda, maka dari itu, melalui Mediated Learning Experience (MLE), anak dapat belajar melalui pengalamannya secara langsung.

1 Response to "Penerapan Mediated Learning Experience (MLE) Pada Anak Pra sekolah Ketika Berbelanja Ke Pasar"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel