Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi - Dzikri Khasnudin

Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi

Pengertian Antropologi

Disiplin ilmu antropologi sejatinya merupakan produk peradaban Barat yang relatif baru. Dalam sejarah lahirnya antropologi, perkembangan ilmu tersebut melalui tahapan yang panjang. Ilmu antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu anthropos yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu. Dengan demikian, secara harfiah, antropologi berarti ilmu tentang manusia.

Para ahli antropologi (antropolog) sering mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasiyang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian ataupun pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia (Haviland, 1999: 7;Koentjaraningrat, 1987: 1-2). 

Jadi antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang mahluk manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat, dan kebudayaannya.
pengertian dan ruang lingkup antropologi

Secara khusus ilmu antropologi tersebut terbagi ke dalam lima sub-ilmu yang mempelajari: 

  • masalah asal dan perkembangan manusia atau evolusinya secara biologis;
  • masalah terjadinya aneka ragam cirri fisik manusia; 
  • masalah terjadinya perkembangandan persebaran aneka ragam kebudayaan manusia; 
  • masalah asal perkembangan dan persebaran aneka ragam bahasa yang diucapkan di seluruh dunia; 
  • masalah mengenai asas-asas dari masyarakat dan kebudayaan manusia dari aneka ragam sukubangsa yang tersebar diseluruh dunia masa kini.

Dari kelima sub-ilmu tersebut, secara makro antropologi dapat dibagi ke dalam dua bagian, yakni antropologi fisik dan antropologi budaya.

1. Antropologi Fisik

Antropologi fisik mempelajari manusia sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya, dan menyelidiki variasi biologisnya dalam berbagai jenis (species). 

Keistimewaan apapun yang dianggap melekat ada pada dirinya yang dimiliki manusia, mereka digolongkan dalam “binatang menyusui” khususnya primata. 

Dengan demikian para antropolog umumnya mempunyai anggapan bahwa nenek moyang manusia itu pada dasarnya adalah sama dengan primat lainnya, khususnya kera dan monyet. 

Melalui aktivitas analisisnya yang mendalam terhadap fosil-fosil dan pengamatannya pada primat-primat yang hidup, para ahli antrolpologi fisik berusaha melacak nenek moyang jenis manusia untuk mengetahui bagaimana, kapan, dan mengapa kita menjadimahkluk seperti sekarang ini (Haviland, 1999: 13).

2. Antropologi Budaya

Sedangkan antropologi budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia ataupun cara hidupnya dalam masyarakat. Menurut Haviland (1999: 12) cabang antropologi budaya ini dibagi-bagi lagi menjadi tiga bagian, yakni; arkeologi, antropologi linguistik, dan etnologi. 


Baca: Arkeologi, Antropologi Linguistik dan Etnologi

Untuk memahami pekerjaan para ahli antropologi budaya, kita harus tahu tentang;
(1) hakikat kebudayaan yang menyangkut tentang konsep kebudayaan dan karakteristik-karakteristiknya, (2) bahasa dan komunikasi, menyangkut; hakikat bahasa, bahasa dalamkerangka kebudayaan, serta (3) kebudayaan dan kepribadian. 

Antropologi budaya juga mengkaji tentang praktik-praktik sosial, bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa, dimana makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan masyarakat. 

Saat ini, kajian antropologi budaya lebih menekankan pada empat aspek yang tersusun, antara lain:
  1. Pertimbangan politik, di mana para antropolog budaya sering terjebak oleh kepentingan-kepentingan politik dan mebiarkan dalam penulisannya masih terpaku oleh metode-metode lama yang sudah terbuki kurang layak untuk menyusun sebuah karya ilmiah.
  2. Menyangkut hubungan kebudayaan dengan kekuasaan. Jika pada awalnya bertumpu pada asumsi-asumsi kepatuhan dan penguasaan masing-masing anggota masyarakat terhadap kebudayaannya, sedangkan pada masa kini dengan munculnya karya Bourdieu (1977) dan Foucault (1977, 1978) kian menekankan penggunaan taktis diskursus budaya yang melayani kalangan tertentu di masyarakat.
  3. Menyangkut bahasa dalam antropologi budaya, di mana terjadi pergeseran makna kebudayaan dari homogenitas ke heterogenitas yang menekankan peran bahasa sebagai sistem formal abstraksi-abstraksi kategori budaya.
  4. Preferensi dan pemikiran individual di mana terjadi hubungan antara jati diri dan emosi, sebab antara kepribadian dan kebudayaan memiliki keterkaitan yang erat.
Dalam kajian antropologi budaya, kebudayaan seharusnya ditempatkan tidak hanya sekadar menekankan pada aspek estetik atau humanis, melainkan juga aspek politik. 

Jadi, objek studi ini bukanlah kebudayaan dalam pengertian yang sempit (yang sering dikacaukan dengan istilah kesenian atau kegiatan-kegiatan intelektual dan spiritual), namun kebudayaan dalam pengertian sebagai cara hidup tertentu bagi sekelompok orang yang berlaku pada suatu periode tertentu.

Dengan demikian, meskipun studi kebudayaan tidak dapat atau tidak perlu direduksi  menjadi studi budaya populer, namun studi populer tersebut menjadi inti proyek penelitian dalam kajian-kajian antropologi budaya.

Cabang-cabang Ilmu Antropologi

Secara keseluruhan, yang termasuk bidang-bidang khusus secara tematis dalam antropologi lainnya, selain antropologi fisik dan kebudayaan adalah antropologi ekonomi, antropologi medis, antropologi psikologi, dan antropologi sosial.

1. Antropologi Ekonomi

Bidan ini merupakan cara manusia dalam mempertahankan dan mengekspresikan diri melalui penggunaan barang dan jasa material (Gudeman, 2000:259). 

Masyarakat pada masa lampau dan sekarang, termasuk masyarakat non-Barat yang fokusnya terarah pada bentuk dan penyatuan kehidupan ekonomi dalam kaitannya dengan perbedaan gaya kekuasaan dan ideologi.

Dengan demikian, ruang lingkup antropologi ekonomi tersebut mencakup riset tentang teknologi, produksi, perdagangan, konsumsi, serta tinjauan tentang berbagai bentuk pengaturan sosial dan ideologis manusia untuk mendukung kehidupan materi manusia.

Selain itu, antropologi ekonomi berusaha merangkum aspek etnografis dan teoritis, sekalipun keduanya acap kali bertentangan. Sebab di satu bidang kajian ini juga membantu pengujian atas teori-teori ekonomi pada umumnya. 

Di sisi lain bidang ini juga dipengaruhi cabang-cabang lainnya dari ilmu ekonomi, khususnya aliran mikro dan neo-klasik. Melalui pengkajian pendekatan neo-klasik, membuat para pemerhati antropologi ekonomi juga meyakini asumsi-asumsinya seperti rasionalitas setiap individu, pengutamaankalkulasi, optimalisasi, dan sebagainya, yang tidak begitu relevan terhadap pendekatan- pendekatan lain yang lebih umum dalam antropologi (Gudeman, 2000: 259). 

Sedangkan ekonomi makro ternyata tidak banyak memberi pengaruh, walaupun cakupannya begitu besar (makro). Bahkan yang lebih unik lagi adalah aliran Marxisme, justru memberi pengaruhterhadap antropologi ekonomi.

Pengaruh Marxisme tersebut, nampak sejak tahun 1960-an dan 1970-an ketika kaum Marxis melomtarkan pertanyaan kritis tentang asal-mula dan pemanfaatan surplus dalam suatu masyarakat. 

Namun secara formal pengaruh Marxis tersebut justru berkembangnya tahun 1980-an dan 1990-an, ketika munculnya studi-studi tentang ”sistem dunia” sebagai pengaruh pemikiran-pemikiran Karl Polanyi dan Immanuel Wallerstein.

Pemikiran Karl Polanyi yang mengembangkan pendekatan institusional,mengemukakan bahwa perekonomian yang bertumpu pada pasar, bukanlah sesuatu yang universal, seperti diyakini oleh para ekonom klasik. 

Sebab, di banyak negara khususnya diluar Eropa, perekonomian diatur berdasarkan kepentingan bersama (resiprositas). Sayangnya pendapat tersebut kalang pengaruh oleh pemikiran Marxis dan neo-klasik sehingga pemikiran Polanyi tidak berkembang (Gudeman, 2000: 259). 

Selanjutnya, para ahli antropologi ekonomi mencoba memadukan pengetahuan modern dan non-modern dengan pendekatan ”dualisme ekonomi” dalam semua materi antara produksi untuk diri sendiri dan produksi untuk orang lain. Untuk tipe yang pertama, disebut perkonomian komunitas, sedangkan yang kedua, disebut perekonomian pasar (Gudeman, 2000: 260).

Perekonomian komunitas dibentuk tas dasar banyak asosiasi seperti rumah tangga, kelompok kekerabatan, lingkungan pemukiman, serikat pengrajin, sekte keagamaan, desa-desa, dan sebagainya. 

Dalam segenap komunitas lokal itu saling melebur ketika melakukan berbagai kegiatan pemenuhan materi. Karena itu kepemilikan bersama merupakan prinsip yang penting, baik itu terhadap tanah, pengetahuan, alat produksi, ajaran leluhur, dan sebagainya. 

Sedangkan dalam perekonomian pasar, sebaliknya didasarkan pada persaingan antara pembeli dan penjual. Dalam hal ini semua pihak berhubungan untuk memperoleh keuntungan. Melalui aktivitas tersebut perekonomian pasar menjanjikan efisiensi alokasi sumber daya, walaupun tidak pernah menjanjikan pemenuhan kebutuhan bagi setiap orang.

2. Antropologi Medis

Antropologi medis merupakan sub-disiplin yang sekarang paling populer di Amerika Serikat, bahkan tumbuh pesat di mana-mana. Antropologi medis ini banyak membahas hubungan antara penyakit dan kebudayaan yang tampak memengaruhi evolusi manusia, terutama berdasarkan hasil-hasil penemuan paleopatologi. (Foster dan Anderson, 1986: vi)

Begitu luasnya ruang lingkup antropologi medis tersebut, sampai sekarang tidak mudah mendefinisikan subjek kajiannya. Namun, yang jelas minat meneliti berbagai reaksi orang dalam masyarakat dan budaya tertentu terhadap tubuh yang menderita penyakit, telah menjadi ciri antropologi medis sejak awal mula terbentuknya sampai masa sekarang.

3. Antropologi Psikologi

Bidang ini merupakan wilayah antropologi yang mengkaji tentang hubungan antara individu dengan makna, nilai,dengan kebiasaan sosial dari sistem budaya yang ada (White, 2000: 856). 

Adapun ruang lingkup  ’antropologi psikologi’ tersebut sangat luas dan menggunakan berbagai pendekatan pada masalah kemunculan dalam interaksi antara pikiran, nilai dan kebiasaan sosial. 

Kajian ini dibentuk secara kusus oleh percakapan interdisipliner antara antropologi dan lingkup lain dalam ilmu-ilmu sosial serta humaniora. Sedangkan fokus kajian bidang ini terpusat pada individu dalam masyarakat sering makin mendekatkan hubungan dengan psikologi dan psikiatri dibanding dengan mainstream antropologi. Namun secara historis, bidang antrpologi psikologis tersebut lebih dekat pada ’psikoanalisis’ daripada’psikologi eksperimental’.

Sejak tahun 1940-an, para ahli ’antropologi psikologi’ melalui pendekatan psikoanalitis, ia menganalisis tentang bentuk-bentuk budaya dan keragaman budaya, seperti kepercayaan agama, praktik ritual agama, praktik ritual norma-norma sosial, seperti ekspresi proses-proses psikologis yang ada (White, 2000: 857)

4. Antropologi Sosial

Bidang ini mulai dikembangkan oleh James George Frazer di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Dalam kajiannya ’antropologi sosial’ mendeskripsikan proyek evolusionis, yang bertujuan untuk merekonstruksi masyarakat primitif asli dan mencatat perkembangannya melalui berbagai tingkat peradaban. 

Selanjutnya pada tahun 1920-an di bawah pengaruh Brosnilaw Malinowski dan A.R. Radecliffe-Brown, penekanan pada antropologi sosial Inggris, bergerak menjadi suatu studi komparatifmasyarakat kontemporer (Kuper, 2000: 971).

Kalau saja dalam sosiologi ada nama-nama besar seperti Emile Durkheim, Max Weber, August Comte dan sebagainya, maka dalam antropologi sosial kita jumpai nama-nama, seperti; Pierre Bourdieu, Frederich Barth, dan Ernst Gellner. 

Kini antropologi sosial menjadi semakin populer, bahkan menurut Kuper (2000: 972) lebih berpengaruh, khususnya dalam bidang sejarah, sosiologi, geografi, dan kajian-kajian budaya lainnya. 

Selain itu para ahli antropologi sosial juga lebih terbuka terhadap berbagai ide dari bidang-bidang disiplin lain termasuk psikologi dan linguistik secara interdisipliner. 

Para ahli antropologi sosial juga mempunyai kontribusi terhadap kajian-kajian penelitian terapan atas berbagai persoalan, seperti hubungan etnik, imigrasi, efek medis, ketetapan pendidikan, dan pemasaran. Beberapa tokoh seperti Clifford Geertz dan David Schneider memiliki pengaruh penting bukan saja di Amerika tetapi juga di Eropa.

Prancis merupakan salah satu negara Eropa Barat yang secara gigih memberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan antropologi sosial di Eropa. 

Pada tahun 1989,diidirikan European Association of Social Antropologists, yang kemudian dengan berbagai konferensi dan publikasinya, pada tahun 1992 diterbitkan jurnal Social Anthropology, dan bersamaan itu pula banyak diciptakan berbagai teori sosial kontemporer (Kupper, 1992).

Mereka bereksperimen dengan suatu kisaran yang luas dari strategi penelitian yang bersifat komparatif, historis dan etnografis. Sedangkan tradisi penelitian lapangan etnografi tetap kuat, di mana Eropa sekarang juga merupakan salah satu pusat para peneliti antropologi sosial. 

Walaupun tidak ada perspektif teoretis yang dominan dalam antropologi sosial ini, namun para ahli kontemporer bidang ini, telah banyak melakukan berbagai kajian yang bersifat sosiologis yang canggih, dan secara kultural telah memberikan perspektif komparatif yang bernilai dalam kajian perilaku sosial umat manusia.

Referensi:

  • Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jilid I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
  • Haviland, William A. 1999. Antropologi. Jilid 1. Diterjemahkan oleh R.G. Soekadijo. Jakarta: Erlangga.
  • Gudeman, S. 2000. Antropologi Ekonomi dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper. Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. Diterjemahkan oleh Haris Munandar dkk. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Foster dan Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Diterjemahkan oleh Priyanti Pakan Suryadarma dan Mutia F. Hatta Swasono. Jakarta: UI Press
  • White, G.M. 2000. Antropologi Psikologis. dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper. Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. Diterjemahkan oleh Haris Munandar dkk. Jakarta: Raja Grafindo.

0 Response to "Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel