Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein - Dzikri Khasnudin
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein

akibat kekurangan dan kelebihan protein
Protein memang sangat di perlukan oleh tubuh, tetapi terlalu banyak mengonsumsi protein juga akan menimbulkan masalah. Apalagi jika mengalami kekurangan protein, maka akan rentan sekali terhadap beberapa penyakit. Dalam Djoko Pekik Irianto (2007) Akibat – akibat yang muncul karena terlalu banyak mengonsumsi protein antara lain: 

  1. Kelebihan protein akan di simpan dalam tubuh dalam tubuh lemak sehingga akan menjadi  semakain gemuk.
  2. Memperberat kerja hati dan ginjal untuk membuang nitrogen pada metabolisme asam amino (deaminasi).
  3. Produksi urine berlebihan dapat menggangu  penampilan. 
  4. Minera – mineral penting seperti potasium, kalsium, magnesium akan terbuang bersama urine sehingga dapat menimbulkan dehidrasi. 
  5. Protein bukan energi yang siap pakai, proses metabolisme memerlukan waktu yang lama.
  6. Protein merupakan sumber energi yang kurang efesien karena SDA (specific dynamic action) atau energi yang di butuhkan untuk proses metabolisme cukup besar yakni 30-40% padahal SDA karbohidrat hanya 6-7% dan SDA lemak 4-14%.

Sebenarnya kebutuhan protein relatif sedikit sehingga apabila asupan makanan sehari – hari sudah mencakupi kebutuhan zat gizi termasuk protein maka suplemen protein (asam amino) tidak di perlukan. 

Dengan menu makanan tersebut, kebutuhan protein untuk pertumbuhan dan penggantian sel – sel yang rusak sudah tercukupi. Asupan protein yang berlebihan memberatkan kerja ginjal dan hati yang berpengaruh terhadap kinerja olahragawan. 

Untuk itu, olahragawan tidak di anjurkan mengonsumsi protein yang berlebihan (high protein intake).   

Meskipun kebutuhan protein relatif sedikit, tetapi apabila kekurangan protein tetap saja berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh. Salah satu penyakit akibat dari kekurangan protein disebut dengan kwashiorkor.

Baca Juga: Pengertian Protein dan Jenis-jenisnya 

Istilah kwashiokor pertama kali diperkenalkan oleh Dr.Cecily pada tahun 1933. Istilah kwashiorkor itu sendiri berasal dari bahasa setempat yang berarti “penyakit anak pertama yang timbul begitu anak kedua muncul". 

Makna dari kata-kata ini intinya adalah menggambarkan suatu penyakit yang timbul pada anak pertama akibat anak tersebut tertelantarkan oleh orangtua akibat adanya adik yang baru lahir.

Kwashiorkor adalah salah satu bentuk dari gangguan gizi yang dikenal sebagai Kurang Energi dan Protein (KEP), ada juga yang mendefinisikan bahwa kwashiorkor adalah suatu sindrom yang diakibatkan defisiensi protein yang berat. 

Defisiensi ini sangat parah, meskipun konsumsi energi atau kalori tubuh mencukupi kebutuhan. Biasanya, kwashiorkor ini lebih banyak menyerang bayi dan balita pada usia enam bulan sampai tiga tahun. Usia paling rawan terkena defisiensi ini adalah dua tahun. 

Pada usia itu berlangsung masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau makanan sapihan. Pada umumnya, kandungan karbohidrat makanan tersebut tinggi, tapi mutu dan kandungan proteinnya sangat rendah. (Sunita Almatsier, 2004)

Baca Juga: 5 Fungsi Protein Bagi Tubuh

Anak dengan kwashiorkor akan mengalami edema (penumpukkan cairan di jaringan bawah kulit umumnya di ujung-ujung tungkai bawah) dan adanya akumulasi cairan di rongga usus. Bagian tubuh yang menderita edema akan menjadi bengkak, bagian tersebut bila dipencet memberikan suatu cekungan. 

Terjadi pula penimbunan cairan di rongga perut yang menyebabkan perut si anak menjadi busung (oleh karenanya disebut busung lapar). Apabila keadaan menjadi lebih berat, kulit menjadi kusam dan mudah terkelupas, rambut menjadi merah kusam dan mudah dicabut, anak menjadi lebih sering menderita bermacam penyakit dan lain-lain.

Penderita kwashiorkor tampak apathis, tidak ada perhatian terhadap keadaan sekitarnya, yang tampak pada ekspresi mukanya dengan mata yang redup tidak bersinar. Sering anak ini menangis dengan nada menjengkelkan, dan tidak mau berhenti untuk waktu yang lama. (Achmad Djaeni, 2000, hlm. 86)

Ciri-ciri lain penderita kwashiorkor adalah hambatan pertumbuhan, perubahan pada pigmen rambut dan kulit, edema, dan perubahan patologi pada hati. Hal ini terutama terlihat pada infiltrasi lemak, nekrosis, dan fibrosis. Temuan lain adalah apati, cengeng, atrofi pankreas, gangguan saluran cerna, anemia, kadar albumin serum yang rendah, dan dermatosis.

Selain kwashiorkor, Kekurangan Energi Protein (KEP) yang terjadi pada saat janin berada dalam kandungan akan berdampak pada berkurangnya berat otak sampai 13%. Berkurangnya berat otak ini karena jumlah sel otak berkurang, demikian pula ukurannya. Berkurangnya sel otak disebabkan oleh terhambatnya sintesis protein. (Ali Khomsan, 2010, hlm. 3-4)

Baca juga: Pangan dan Macam-macam Sumber Protein Hewani

Referensi

  • Irianto, Djoko Pekik. 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragawan. Penerbit CV Andi Offset. Yogyakarta.
  • Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2000. Ilmu Gizi Bagi Mahasiswa dan Profesi. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta
  • Khomsan, Ali. 2010. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
  • Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta


Posting Komentar untuk "Akibat Kekurangan dan Kelebihan Protein "